PENGEMBANGAN PROGRAM KERJA MGMP
Program kerja MGMP (/Musyawarah Guru Mata Pelajaran) memuat seluruh aspek kebutuhan guru atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Penyusunan program kerja MGMP hendaknya disusun oleh kepala sekolah dan pengawas bersama dengan pengurus MGMP; menjabarkan visi dan misi dalam program, diarahkan oleh kebijakan operasional yang sudah disusun termasuk tentang jenis kegiatan yang sesuai, serta memperhatikan hasil dari analisis SWOT dan kebutuhan guru.
MGMP sebagai suatu forum atau wadah profesional guru (kelas/mata pelajaran) yang berada pada suatu wilayah kabupaten/ kota/ kecamatan/sanggar/gugus sekolah yang prinsip kerjanya adalah cerminan kegiatan dari, oleh, dan untuk guru dari semua sekolah. Awalnya, MGMP merupakan suatu organisasi profesi guru yang bersifat non struktural yang dibentuk oleh guru-guru di Sekolah Menengah (SMP atau SMA) di suatu wilayah sebagai wahana untuk saling bertukaran pengalaman guna meningkatkan kemampuan guru dan memperbaiki kualitas pembelajaran.
MGMP adalah suatu organisasi non struktural yang bersifat mandiri, berasaskan kekeluargaan, dan tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan lembaga lain. Peran dan potensi MGMP perlu direvitalisasi sehingga dapat digunakan sebagai wadah untuk menyelesaikan program peningkatan mutu guru dengan mengunakan para guru sendiri sebagai sumber belajar secara kolegial. Ada beberapa model kegiatan untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang dapat dilakukan oleh para guru secara kolaborasi. Salah satunya adalah melalui kegiatan Lesson study (LS).
Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidikan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegilitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Dengan demikian Lesson study bukan metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan Lesson study dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru.
Keberhasilan sesi ini tergantung dari saksian langsung contoh Open Class, salah satu kegiatan dari program Lesson study. Ini bisa melalui tayangan atau — kalau memungkinkan, lebih baik lagi —studi banding ke sekolah dimana ada guru/kepala sekolah yang pernah ikut Lesson study.
Keberhasilan penyusunan program MGMP tergantung dari nara sumber (lebih dari satu orang, kalau mungkin) yang seharusnya guru senior dari gugus/rayon MGMP yang berpengalaman dalam penyusunan program KKG/MGMP. Narasumber perlu membawa beberapa contoh program MGMP yang sudah dilaksanakan di lapangan.
Langkah-langkah pengembangan program KKG/MGMP
Pengembangan program MGMP disusun untuk mendukung pelaksanaan tupoksi MGMP. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis terhadap tugas dan fungsi MGMP secara cermat yaitu : (a) Menganalisis kebutuhan MGMP berdasarkan tupoksi: (b) Menganalisis kebijakan nasional yang berkaitan dengan tupoksi; (c) Menganalisis kesenjangan situasi sekarang dan yang diinginkan dengan menggunakan satu atau beberapa pendekatan dan metode yang efektif.
Situasi sekarang: Harus ditentukan kuantitas dan kualitas (kompetensi) guru dan pegawai yang sekarang dan masa depan termasuk analisis tujuan, iklim, serta kendala internal dan eksternal MGMP;
Situasi yang diinginkan: Harus diidentifikasi kondisi yang diinginkan untuk keberhasilan MGMP berorientasi pada standar kompetensi guru dan standar–standar lainnya sesiau peraturan yang berlaku (PP no 19/2005).
Perbedaan kesenjangan antara sekarang dan yang diperlukan akan menunjukkan kebutuhan MGMP dengan skala prioritas. Tahapan proses perencanaan yaitu apa, mengapa, bagaimana, bilamana, siapa, penilaian dan kemungkinan perubahan rencana.
Penyusunan program MGMP meliputi:
a. mengidentifikasi topik-topik yang dibahas dalam MGMP: (contoh: penyusunan kurikulum, modeling, pembuatan soal dan ide inovatif seperti PTK, Kajian Kritis Bahan Ajar, open kelas dari program Lesson study)
b. menentukan waktu pelaksanaan (kapan dan berapa lama).
c. menyusun program MGMP untuk 16 kali pertemuan.
Untuk mengetahui apakah kegiatan MGMP berhasil, perlu dilakukan kegiatan analisis kemajuan pelaksanaan KKG/MGMP tersebut. Dalam menganalisis kemajuan MGMP perlu disusun indikator dan format yang akan digunakan untuk mengetahui tingkat kemajuan MGMP dari waktu ke waktu maupun pada suatu kurun waktu tertentu. Dengan demikian diharapkan melalui kegiatan analisis kemajuan ini dapat memberikan umpan balik terhadap pelaksanaan kegiatan MGMP agar terus dapat meningkat dengan mengacu pada hasil analisis dan rekomendasi/saran perbaikan.
Mereka diminta untuk mempertimbangkan pertanyaan seperti ini:
I. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja KKG/MGMP?
II. Data-data apa saja yang dibutuhkan dalam analisis kegiatan KKG/MGMP?
III. Analisis indikator apa saja yang menunjukkan keberhasilan program KKG/MGMP?
Untuk menyukseskan kegiatan MGMP hendaknya pengawas sekolah setempat aktif melakukan monitoring. Pengawas hendaknya hadir setidaknya satu kali sebulan dalam pertemuan mingguan. Hal tersebut dimaksudkan agar pengawas bisa melihat langsung kegiatan nyata apa yang sedang dilaksanakan pada MGMP dan ia dapat memberikan bantuan dan saran-saran yang bermanfaat bagi para guru.
Pengawas dapat mengunjungi semua sekolah di wilayah binaannya (rayon/subrayon) secara teratur untuk mengetahui keadaan dan kebutuhan setiap sekolah dan guru. Oleh karena itu, pengawas berperan sebagai pembantu dalam penyusunan dan pelaksanaan program gugus dan memberi semangat kepada guru untuk ikut serta dalam kegiatan gugus serta menerapkan hasil kegiatan gugus di kelasnya masing-masing.
Tugas pengawas antara lain adalah:
• Memonitor kegiatan masing-masing sekolah dan kelas.
• Membantu para guru inti dalam perencanaan dan persiapan kegiatan MGMP sesuai kebutuhan guru.
• Menghadiri dan ikut serta dalam kegiatan MGMP dan MKKS.
• Memonitor pelaksanaan tindak lanjut dan dampak hasil MGMP dan penataran di sekolah.
• Membantu guru dalam masalah kegiatan belajar mengajar.
• Memberikan umpan balik kepada guru dan kepala sekolah tentang hasil supervisi.
Dalam menyusun laporan kegiatan dan evaluasi kinerja MGMP sering menemui kendala dan hambatan antara lain adalah kurang cukupnya data/ informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan penyusunan, evaluasi, tindak lanjut, dan rekomendasi. Berkaitan dengan hal itu seharusnya pada setiap kegiatan MGMP didokumentasikan baik secara tertulis, rekaman video, maupun penggunaan teknologi lain yang relevan untuk pendokumentasian. Kelengkapan dokumentasi sangat membantu evaluator dalam mengidentifikasi berbagai kendala/hambatan yang ditemui pada pelaksanaan kegiatan MGMP.
sumber : edupedia.koran pendidikan.com
Komentar